ufal's log > blog

Mencoba ibisOffice

2026-10-14 - FOSS, Software

Thumbnail

Sepertinya membuat alternatif tidak ada salahnya.

Beberapa waktu kemarin, ibis inc. (yes, yang bikin ibisPaint) merilis ibisOffice, sebuah office suite yang mencakup pengolah kata, pengolah spreadsheet dan pengolah salindia. Office suite ini ditulis dengan Rust, bersumber terbuka, dan multi-platform yang juga mendukung Linux dan web.

Dari repositorinya sendiri cuma menyediakan instalasi untuk Windows dan Mac, jadi aku harus compile sendiri.

Right of the bat: not mature enough yet. So much. Tetapi perlu digarisbawahi bahwa ini penilaian dari build Linux yang aku compile sendiri.

Aku pribadi belum terlalu banyak menjamah apa aja yang ada di sini, tetapi untuk katalog font di build Linux ini, dia gak bisa baca selain beberapa font CJK bawaan seperti MS Mincho, Yu Mincho, you know, Japanese fonts.

Kedua mungkin soal gambar yang susah untuk diatur, I mean, literally. You put the thing in there and nothing you can do with it. I guess we treated Microsoft Word too harshly.

But what’s the most intriguing thing here is that antarmukanya merupakan duplikasi dari suite Google Workspace, in this case, Google Docs. Kalau udah terbiasa pake Google Docs, pasti langsung merasa tata letaknya plek ketiplek.

Bisa dipake? Probably nope. LibreOffice is still one block away anyway. Heck, just use Google Docs on your browser.

But it begs me a question, was it also vibe-coded like the recent buzz from ArtCraft? Well, not quite sure. Memang gak ada penafian di dokumentasinya sih. Dan untuk sisanya gak bisa aku ungkapkan pribadi karena bukan ranahku (gak paham, in short).

Tetapi karena bersumber terbuka, masih ada ruang untuk berkembang lagi untuk ke depannya. Sama seperti proyek lainnya yang serupa.

Repositorinya bisa dicek di https://github.com/ibisjp/ibis-office