ufal's log > blog

Mengurus Sistem Linux dengan Isi Kepala yang Kacau

2026-02-09 - Linux, Personal, Tech

Thumbnail

Obrolan serius. Menjadi seorang yang memakai Linux dan juga (self-diagnosed, maaf) punya gejala mirip ADHD itu bagai penderitaan yang terselip di antara kenikmatan.

Obrolan serius. Menjadi seorang yang memakai Linux dan juga (self-diagnosed, maaf) punya gejala mirip ADHD itu bagai penderitaan yang terselip di antara kenikmatan.

Aku suka pakai Linux, bahkan sampai cukup malas kalau mau pakai Windows di komputer sendiri. Tetapi terkadang justru aku ingin merasa setup yang aku gunakan selalu sempurna dan pas untukku.

Memang hanya sedikit demi sedikit, tetapi lama-lama jadi bukit. Kalau tiba-tiba suatu hari ingin membuangnya jadi terasa sayang banget. Windows sebenarnya juga sama, tetapi relatif lebih jinak karena, toh, konfigurasi yang aku lakukan di Linux jelas lebih ekstensif dan lebih manual daripada yang aku lakukan di Windows.

Bahkan ketika sekarang aku menghadapi masalah menjalankan Endfield di Fedora yang sering tersendat dan justru lancar di Debian atau Arch, aku jelas mikir-mikir kalau mau pilih jalan instal ulang daripada dwibut (dual boot).

Ya, mungkin karena posisi cuma pakai RAM 8 GB, dan Fedora dengan alasan tertentu (yang tentu bukan ranahku untuk menjelaskannya) memberikan efek samping lebih buruk daripada Debian dengan desktop-ku sekarang.

Ada rencana gila untuk pakai RAM bekas laptop yang rusak itu tadi sebesar 8 GB untuk mengisi slot di desktop sehingga bisa punya 12 GB. Aku tahu ini gila, tetapi aku udah konsultasi dengan Om Alva Jonathan, sedikit aman dunia. Bujet (budget) sementara waktu belum memungkinkan untuk selain solusi yang terjangkau, jadi aku gak ada opsi yang lebih banyak selain ini.

Semoga lancar.

Dan, oh, ini pos pertama di blogku di tahun ini dan setelah sekian purnama.