ufal's log
2025-09-01-01
Luka Jakarta, Luka Pembangunan - Kompas (Archived)
-
Masyarakat menengah ke bawah jadi gak ada akses tranportasi murah, aman dan cepat
-
Duit sebanyak itu jadi "kebuang" secara paksa buat memperbaiki, padahal mungkin masih bisa dialokasikan ke yang lainnya, apalagi yang udah nunggu lama dapet anggarannya
-
Hal ini disebut sebagai efek pengalihan fiskal, prioritas yang bergeser karena negara harus menambal kerusakan yang seharusnya tidak perlu terjadi (tolol banget ancrit)
-
Udah rugi waktu dan mobilitas, bikin macet lagi
-
Banyak yang mengalami kerugian secara psikologis dan sosial karena trauma. Belum lagi polarisasi di jejaring sosial, setuju dan gak setuju dengan perbuatan anarkistis. Yang seharusnya ada kohesi sosial sebagai modal penting dalam pembangunan negara jadi rapuh.
-
Reputasi jadi jelek karena halte dan JPO rusak. Investor bilang kalau politik jadi gak stabil, arus modal bisa jadi macet bahkan hubungan diplomatik jadi jelek. Please note berita ini juga udah keluar negeri juga, 'kan.
-
Gerakan mahasiswa yang harusnya sekadar menyuarakan aspirasi malah pupus karena ada yang menyusupi di dalamnya, sehingga fokus teralih dan substansi tuntuan jadi hilang.
-
Fasilitas publik rusak = pelayanan publik rusak. Transportasi sulit, gak bisa nyebrang jalan dengan nyaman, gak bisa merasa aman tanpa ada CCTV. Ongkos sosial ini, coy.
Api perjuangan harus diarahkan pada kebijakan yang timpang, bukan pada halte yang dipakai buruh setiap pagi.
Kerugian material mungkin bisa dipulihkan melalui tahun anggaran berikutnya. Akan tetapi, kerugian imaterial—rasa aman, produktivitas, reputasi bangsa—membutuhkan waktu jauh lebih panjang untuk dipulihkan. Luka ini adalah peringatan bahwa demokrasi akan kehilangan makna bila disertai dengan perusakan ruang publik. Aksi unjuk rasa belakangan ini harus dibaca sebagai ujian kedewasaan gerakan sosial. Jika substansinya adalah menolak ketidakadilan, perjuangan itu harus tetap fokus pada substansi. Jangan mau dipecah-belah. Jangan biarkan api perjuangan rakyat berubah menjadi api yang membakar rumah bersama. Dalam perspektif pembangunan, infrastruktur adalah urat nadi pelayanan publik. Ketika ia dirusak, yang pertama merasakan bukanlah elite politik, melainkan rakyat kecil. Karena itu, menjaga fasilitas publik sama dengan menjaga martabat rakyat. Perjuangan sejati adalah perjuangan yang melindungi martabat itu, bukan menghancurkannya.