ufal's log

2026-02-01-01

My hot take is that kita ngesampingkan Endfield dalam bahasa Indonesia seperti apa, kita aslinya juga bisa merasa asing dengan istilah yang ada saat menggunakan bahasa Inggris juga

Ini semua karena kita masih menganggap bahasa Inggris sebagai bahasa asing sehingga mewajarkan jika ada istilah yang tidak familiar sama kita. We may look it up ourselves, use instinct like we did back with PS1 games in moonrunes, or just don't give a shit at all.

Sedangkan saat kita menggunakan antarmuka berbahasa Indonesia, ekspektasi kita tentu adalah sesuatu yang familiar dengan kita. Or is it? (Vsauce intro) Kita lahir dan tumbuh dengan bahasa Indonesia, tetapi belum tentu yang bisa berbahasa Indonesia itu menguasai bahasa Indonesia.

Bahasa bisa dikuasai dengan pengalaman berkomunikasi, baik secara tertulis dan terucap. Tetapi pengalaman tanpa teori untuk memberikan sebuah standar sebagai landasan acuan akan membuat status bahasa itu cenderung goyah. Maka dari itu, perlu adanya sebuah standarisasi yang akan melengkapi panduan kaidah yang sudah ada.

Satu abad yang lalu, bahasa Indonesia itu tidak ada. Tetapi syukurlah bahasa Indonesia memiliki perkembangan yang cukup cepat dalam kurun waktu singkat untuk menjadi bahasa yang bisa dikatakan bisa digunakan (30 fps rata kiri). Tetapi tentu saja tidak sedikit konsep-konsep yang masih belum pernah diketahui dan dialami masyarakat, banyak kosakata yang memang belum ada atau sudah ada tetapi tidak lumrah digunakan.

Sekarang aku bertanya, jika ada istilah yang terasa asing dalam bahasa asing kamu masih mau menerimanya, kenapa jika ada istilah yang terasa asing di bahasa sendiri, yang belum dewasa (I mean, really) pembendaharaan kosakatanya justru ditolak?

Apa salahnya untuk kembali mempelajari bahasa kita sendiri secara teoritis? Apa salahnya untuk kembali mempelajari bahasa kita sendiri dari kacamata orang lain? Mengingat bahasa Indonesia ini adalah bahasa persatuan bagi banyak orang dengan berbagai suku dan budaya, hampir dari setiap kita memiliki persepsi masing-masing dalam menggunakan bahasa Indonesia, 'kan?

Soal nama negara yang digadangkan Balai Bahasa kemarin mungkin bukan alasan utama, tetapi justru perluasan pembendaharaan kosakata di bidang sastra, ilmu pengetahuan, dan teknis justru yang akan memberikan status yang lebih kuat dan kokoh atas bahasa Indonesia. Bukannya keren?

Karena cintai bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, kuasai bahasa asing. Kita sebagai orang Indonesia harusnya bangga udah dapet buff bilingual atau trilingual even.

back to daily logs or back to the homepage