ufal's log > blog

Mungkin Endfield-nya Nanti Dulu Saja

2026-02-25 - Arknights: Endfield, Linux

Thumbnail

Dengan kondisi yang seperti sekarang, mungkin aku perlu menunda Endfield terlebih dahulu daripada tersiksa sendiri. Apalagi kalau gacha-nya Arknights masih lebih gacor sampai sekarang.

Hampir empat tahun menanti dan sudah satu bulan sejak dirilis secara perdana, rupanya tidak membuatku merasa nyaman dan terus ingin bermain Endfield. Seharusnya dalam waktu selama itu aku setidaknya bisa menikmatinya walau progress belum sampai kemana-mana. Memang sudah sejak di Arknights aku cukup malas untuk terburu-buru, terlebih aku baru saja menyelesaikan Episode 8 di akun peladen Taiwan beberapa pekan yang lalu. Santai sih, santai saja.

Sejak awal pandemi aku memiliki komputer desktop ini. Spesifikasi yang ala kadarnya di rentang harga yang cukup mepet kala itu. Tetapi aku tentu saja bersyukur sudah memiliki pengganti laptopku yang kala itu sudah tidak sanggup untuk memenuhi tugasnya karena boro-boro bisa ikut panggilan Zoom, mau buka Chrome saja tidak kuat.

Dalam beberapa tahun selanjutnya, yang bisa dikatakan sebagai upgrade pada komputer ini hanyalah dua keping SSD SATA M.2 saja. Prosesor dan RAM belum ganti, dan masih belum ada kartu grafis untuk dibeli. Ruang penyimpanan jelas cukup, tetapi performanya, ya, seadanya saja.

Aku sudah kembali lagi ke Linux mulai akhir 2024 silam hanya karena ingin mencoba Wuthering Waves lagi yang ternyata lebih mumpuni di Linux daripada Windows walau perubahan performanya juga tidak terlalu signifikan. Setidaknya penggunaan RAM lebih lega untuk dipasrahkan sisanya untuk game itu berjalan.

Harapannya Endfield bisa juga berjalan di Linux tanpa masalah. Teorinya seperti itu. Memang gak ada masalah untungnya dari sisi runner Proton yang digunakan. Yang masalah ternyata adalah peranti keras yang aku gunakan, yang tentu kembali menggunakan Windows juga bukanlah jawaban. Bukannya tadi aku bilang mending main Wuthering Waves di Linux, ya?

Alih-alih mudah menyiapkan ruang untuk bermain Endfield seperti Wuthering Waves, aku harus memutar otak untuk kali ini. Yang pertama adalah aku menggunakan peluncur pihak pertama, GRYPHLINK secara langsung daripada menggunakan Epic Game Store agar sejalan dengan Heroic. Tetapi untung di sini masih bisa terbantu dengan Steam agar mudah menyusun prefix, runner dan game-nya itu sendiri. Aku kurang suka menggunakan Faugus, karena kebetulan gagal terus.

Tetapi masalah selanjutnya adalah distro yang aku gunakan, Fedora Workstation. Aku kurang yakin apa yang membuatnya bermasalah. Performa di Fedora sangatlah buruk. Cukup sering tersendat dan nyangkut saat memuat data pertama sebelum masuk ke game. Dan sepertinya partisi Btrfs, swap ZRAM dan kernel Linux paling anyar yang aku gunakan juga belum tentu menjadi penyebab utamanya, yang akan aku jelaskan nanti.

Untung saja masalah ini terselesaikan dengan cara yang… bisa dibilang unik atau mungkin biasa saja, dual boot ke Debian. Karena sekarang aku memiliki dua keping SSD dan satu buah HDD, aku tentu merasa lebih leluasa untuk melakukan dual boot atau lebih.

Partisi untuk Debian aku buat secukupnya saja karena yang dibutuhkan hanya dasar untuk sistem, aplikasi seperti Steam dan runner dwproton. Data game masih ada di partisi yang lain. Dan tentu saja menjalankan Endfield di Debian tidak bermasalah sama sekali, kecuali memang beban dari peranti keras yang terbatas.

Kemudian sebelum aku menulis artikel ini, aku mengganti Debian dengan Arch yang tentu saja bleeding edge dan lebih mutakhir. Dan gak ada masalah sama sekali, bahkan dengan menggunakan partisi Btrfs, swap berbasis ZRAM dan kernel Linux terbaru. Yang anehnya di Fedora justru membuatnya tersendat tidak karuan. Tetapi harusnya di sini aku bisa bertahan dengan kondisi seperti ini untuk terus bermain Endfield, ‘kan? Oh, ternyata tidak.

Walau, ya, aku bisa main sekarang. Tetapi apakah aku merasa nyaman sejauh ini? Tidak. Sekarang kita bahas performa yang aku dapatkan sekarang.

Sebelumnya, aku perlu memberikan rincian spesifikasi yang aku miliki.

Beberapa waktu yang lalu, aku sudah pernah posting ke grup resmi bahasa Indonesianya mengenai pengalaman bermain Endfield di Linux. Well, aku sendiri emang sempet bilang kalau selama main pun terasa playable di spek yang aku gunakan sekarang. Ya, sadar diri, sih. 40-50 fps bisa dapet, tapi bakal dipping below kalau fast paced dan berganti tempat. I mean, I hope that’s clear enough to explain on the surface.

Tetapi satu pos dengan tangkapan layar statis itu gak cukup menjelaskan keseluruhan pengalaman bermain, tentu saja. Ada beberapa aspek yang bisa ditinjau untuk menyimpulkan apakah main Endfield di spek yang aku miliki sekarang adalah hal yang menyenangkan atau tidak.

Jadi aku coba berikan rincian beban yang diterima oleh desktop-ku selama bermain. Aku menggunakan dua keping RAM DDR4 sebesar 4 GB yang totalnya menjadi 8 GB. Karena aku hanya memiliki integrated graphics, Vega 3 di dalam Athlon 200GE-ku, aku harus berbagi RAM untuk VRAM saat digunakan. Ukuran UMA frame buffer yang bisa aku atur di pengaturan BIOS itu mulai dari 64 MB hingga 2 GB.

Tetapi untung saja ini tetap bukan menjadi masalah karena nanti akan otomatis menyesuaikan kebutuhan VRAM seberapa dan bisa melebihi batas yang sudah ditentukan. Jadi jika aku atur menjadi 128 MB seperti yang biasa aku lakukan, itu gak begitu masalah dan memang memprioritaskan untuk RAM sistem dalam kegiatan sehari-hari.

Tetapi tetap saja soal RAM ini merupakan hal yang perlu diperhatikan. Pasalnya, dari spesifikasi minimum yang direkomendasikan dari Hypergryph sendiri itu minimal RAM yang dimiliki sebesar 16 GB. Punyaku jelas hanya separuhnya saja. Boro-boro lancar, itupun masih kepotong sama VRAM tadi yang dipakai sama Endfield.

Untuk rincian penggunaan di spekku saat ini itu cukup menarik. Aku menggunakan patokan di instalasi Arch-ku untuk memaksimalkan ruang RAM yang tersedia. Aku berikan dasar untuk Arch, layanan systemd yang berjalan di latar belakang, macam-macam, serta IceWM atau Hyprland sebesar 600 MB-1 GB dari keseluruhan RAM. Aku kadang menggunakan Steam atau menjalankan Endfield secara langsung dengan skrip shell yang aku buat sendiri, tetapi Steam biasanya juga bakal lari ke swap untuk mengalah.

Endfield paling banter akan memakan RAM sistem sebesar 1.7 GB hingga 2.2 GB, dan VRAM sebesar 3.7 GB paling mentok. Dan memang sebenarnya saat Endfield berjalan sekalipun, biasanya masih ada ruang kosong sebesar 500 MB-900 MB di RAM yang aku miliki yang biasanya gak bakal dimentokin sama Endfield. Tetapi dari sini kita bisa lihat bahwa sebenarnya Endfield sudah mencapai batas kemampuan peranti keras yang aku miliki.

Dari batasan ini, aku memang menjalankannya dengan pengaturan all-low dan resolusi 960×540, dan mendapatkan hasil yang… belum tentu cukup memuaskan juga. Saat diam mungkin bisa 50 fps. Tetapi karena ini game yang dimana kita bergerak terus, berganti tempat ke sana-sini, banyak model yang berjalan juga, tentu aku akan merasakan stutter yang sering juga. Syukur-syukur 20-30 fps. Tetapi gak jarang juga dipping below 10-15 fps. Bukan pengalaman yang menyenangkan bagi kebanyakan orang.

Jika kita melihat kembali pada indikator beban yang ada di pengaturan, Vega 3 sendiri itu sanggup sebenarnya dalam menjalankan Endfield. Jika dengan pengaturanku sekarang, atau jika aku tingkatkan ke 1280×720 all-low, bebannya terasa ringan dan barnya masih hijau. Tetapi jika melihat pada beban memori grafis, mentok merah. Ya, memang masalah utamanya berada di VRAM yang bisa sistemku berikan. 3.7 GB tadi itu udah mentok, sehingga perlu ruang yang lebih banyak jika ingin playable dengan Vega 3 saja buat sekarang.

Jadi apa solusinya yang paling dekat dan masuk akal buat sekarang? Aku merasa aku bisa mencoba untuk meng-upgrade RAM yang aku punya sekarang. Dan ide gila yang sempat terpikirkan adalah aku akan menggunakan satu stik RAM SODIMM bekas laptop yang aku miliki sebesar 8 GB dan akan aku pasang di desktop-ku menggunakan sebuah adapter.

Ya, gila karena itu RAM SODIMM, tetapi untung saja sama-sama DDR4. Kemudian kapasitasnya yang tidak sama dengan stik RAM yang aku gunakan, 2×4 GB. Tetapi ini sekiranya gak jadi masalah selama clock speed-nya sama, 2666 MHz. Dan ini aku sudah konsultasikan ke yang ahli, Mas Alva Jonathan himself. Dan ini masih bisa aku akali dengan budget yang minimal karena buat adapter saja mungkin Rp 170 ribu sudah cukup untuk upgrade ini.

Kemudian selanjutnya antara meng-upgrade CPU atau menambah sebuah kartu grafis. Tetapi dengan perhitungan ulang dan melihat kondisi desktop-ku sekarang yang juga bisa dibilang terlalu bujet (PSU-ku masih bawaan casing, btw), mungkin yang bisa dibilang memungkinkan adalah meng-upgrade CPU. Untung saja kemarin sempat ngincer sebuah Ryzen 3 2200G yang harganya cukup miring. Tetapi kita lihat situasi juga terlebih dahulu setelah upgrade RAM selesai. Mungkin aku jelas perlu meng-upgrade-nya ke 16 GB sekalian, because why not? Itu adalah spesifikasi minimal yang dianjurkan dari Endfield, ‘kan?

Sekarang apa? Berhenti? Mungkin iya. Aku akan berhenti main Endfield sementara waktu. Selain alasan desktop gak kuat seperti di atas, aku sendiri bukan tipe yang biasa main di ponsel. It’s just weird on its own. Dan karena aku ingin merasakan pengalaman yang lebih baik, bukankah lebih masuk akal untuk bermain di desktop daripada ponsel. Tentu ini subyektif, dan ini juga opiniku sendiri, sih. Dan masalah penyimpanan sendiri, aku emang mau membersihkan isi SSD keduaku terlebih dahulu, dan aku masih berat untuk pasang Arknights tiga server di hapeku sekarang daripada pasang Endfield.

Aku merefleksikan ini pada beberapa tulisan lamaku, entah untuk tidak merasa terlalu FOMO jika tidak sanggup dengan event terbaru Arknights beberapa tahun yang lalu, atau jika tidak sanggup beli, tidak perlu memaksakan diri main Ex Astris secara bajakan, atau mengharapkan Endfield akan tetap menjadi game yang unik ke depannya dan tidak terlalu berkiblat dengan pacing dari game gacha pada umumnya sekarang, sehingga masih bisa dinikmati kapan saja. Dan ini juga terbukti bahwa aku sendiri baru lanjut main Wuthering Waves tahun kemarin setelah bisa main di Linux, yang terakhir login saat 2.8 kemarin masih di sekitaran daerah pertamanya itu, yang aku sendiri lupa namanya. Memang tidak perlu memaksakan diri untuk terburu-buru.

Aku gak akan totally lepas begitu saja karena masih harus memantau grup serta catch up dengan hal-hal non-game yang ada saat ini. Toh, aku masih main Arknights yang secara teknis juga kakaknya dan lebih betah karena gachanya tinggal minta. (Plis gue bukan orang dalam Hypergryph, istg).